Nama : Enhot Efraim Girsang
Evelin Salsalina Sitepu
Hardi Elcana Gurning
Ting/Jur : II-D/Theologia
Mata
Kuliah : Pembimbing Teologi Sistematika
Dosen :
Pdt. Kaleb Manurung, M.Th
Teologi Sistematika aliran Gereja
Lutheran
I.
Pendahuluan
Teologi
Sistematika mempunyai hubungan yang erat dengan bidang ilmu lainnya. Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas
dan mempelajari tentang Teologi Sistematis aliran Gereja Katolik. Pada
kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang Teologi Sistematika aliran
Gereja Lutheran, yang juga masih mempunyai hubungan dengan sajian sebelumnya.
Dalam sajian ini akan dibahas tentang tokoh dari Gereja Lutheran yaitu Martin
Luther, latar belakang Gereja Lutheran dan paham-paham Luther yang dianut oleh
Gereja Lutheran. Semoga sajian kali ini dapat berguna dan menambah wawasan kita
bersama.
II.
Pembahasan
2.1 Pengertian Teologi Sistematika
Istilah
Teologi atau theologia berasal dari
bahsa Yunani yang arti katanya ialah ilmu (logos)
tentang Allah (Theos). Menurut makna etimologis,
arti teologi bisa sempit dan bisa luas. Secara sempit, teologi berarti “ajaran
tentang Allah”; sedangkan arti secara luas, teologi berarti “keseluruhan ajaran
Kristen”.[1]
Umat Kristen adalah oknum yang aktif, sehingga defenisi yang mula-mula itu tadi
harus diperluas untuk meliputi karya-karya Allah serta hubungan-Nya dengan
karya-karya itu yang harus berusaha memahami ciptaan Allah, khususnya manusia
serta keadaannya, dan juga karya penebusan Allah dalam hubungan dengan umat
manusia.[2]
Istilah sitematika berhubungan dengan kata “system” sebagai perangkat, sebagai
unsure-unsur secara teratur salng berkait sehingga membentuka totalitas”. Jadi
Teologi Sistematika adalah usaha untuk menjelaskan keseluruhan iman Kristen
secara teratur. Teologi Sistematika juga merupakan hasil dari sebuah gerkan
spiral yang terus menerus yaitu suatu gerakan timbal balik antara Alkitab
sebagai Firman Allah (Wahyu Allah) dan konteks dimana kita hidup. Dengan
demikian, Teologi Sistematika merupakan usaha mengumpulkan, membahas,
merumuskan semua pengajaran Alkitab dalam upaya memberikan pengetahuan tentang
pokok-pokok ajaran iman Kristen dan pedoman-pedoman perilaku orang percaya.[3]
2.2 Pengertian Gereja dan aliran
Lutheranisme
Kata
Gereja bukanlah semacam batasan atau defenisi. Gereja berasal dari bahasa
Portugis: igreja, yang berasal dari
bahasa Yunani: ekklêsia yang berarti
dipanggil keluar (ek=keluar; klêsia dari kata kaleo=memanggil); kumpulan orang yang dipanggil keluar dari dunia.gereja
adalah persekutuan orang percaya yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan dan
Juruselamat. Dalam kesinambungan dengan umat Allah dalam pada Perjanjian Lama,
kita dipanggil keluar dari dunia, dan kita berhimpun bersamauntuk Ibadah, untuk
persekutuan, untuk pengajaran dalam Firman Allah, untuk Perjamuan Tuhan, dan
untuk pewartaan injil keseluruh dunia.[4]
Ada tiga nama yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru:Gereja sebagai
umat Allah; Gereja sebagai tubuh Kristus; Gereja sebagai Bait Roh Kudus.[5] Aliran
Lutheranisme adalah aliran yang berpegang pada ajaran-ajaran Luther.
Lutheranisme menyususun ajaran-ajaran Luther secara sistematis dari berbagai
tulisan yang dibuat oleh Luther sendiri, seperti Katekismus Luther, Pengakuan
Iman Augsburg, Pengakuan Iman Schmalkeden, dan Formula Konkord, yang semuanya
disatukan dalam buku Konkord pada tahun 1580. Rumusan utama dalam Lutheranisme
adalah keselamatan oleh anugrah melalui iman. Pada abad ke-16 dan 17,
Lutheranisme disistematiskan sehingga menjadi sangat intelektualistik dan dapat
dipertanggungjawabkan.[6]
2.3 Gereja Lutheran
2.3.1
Tokoh
Utama Gereja Luheran
Martin
Luther adalah seorang Reformator Gereja dan menjadi tokoh dalam Gereja
Lutheran. Luther lahir pada 10 November 1483 di Eisleben, Jerman. Ayahnya
bernama Hans Luther, seorang yang bekerja sebagai penambang tembaga. Pada
tanggal 30 Juli 1505 ia hampir pernah tersambar oleh kilatan petir dan kemudian
ia berjanji kepada St. Ana bahwa ia akan menjadi Rahib. Pada akhirnya ia
berhasil menjadi guru besar di Universitas Wittenberg. Luther adalah seorang
yang sering bergumul oleh karena Keberdosaannya sendiri. Pada awalnya, ia tidak
bermaksud untuk memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma, namun setelah ia
bergumul, ia mendapatkan sebuah pemahaman yang berbeda dengan ajaran-ajaran
Gereja Katolik Roma. Pada tanggal 31 Oktober 1517 ( tanggal ini diperingati
dikemudian sebagai hari reformasi oleh gereja-gereja Protestan) ia menempelkan
95 dalil didepan gerbang Wittenberg yang ditulis oleh Luther sendiri sebagai
protesnya terhadap Gereja Katolik Roma pada saat itu.[7]
Kesimpulan dari dalil Luther itu menekankan beberapa hal, yaitu : hanya oleh
iman (sola fide) kita dibenarkan,
hanya Alkitab (sola scriptura) yang
merupakan standar kebenaran dan hidup, hanya oleh anugerah (sola gratia) kita memperoleh
keselamatan, dan hal ini yang menjadi inti dari ajaran Luther kemudian hanya
bagi Tuhanlah segala pujian dan hormat (soli
deo gloria) karena Dia lah yang layak menerimanya.[8]
Luther dalam pandangannya banyak dipengaruhi oleh tulisan bapa-bapa Gereja,
terutama Agustinus. Luther menggunakan Alkitab terjemahan dari Desiderius
Erasmus dalam mendukung program pembaruannya.[9]
2.3.2
Latar
Belakang Gereja Lutheran[10]
1.
Bidang
Kerohanian dan Kegerejaan
Pada
abad ke-15 dan abad 16 terdapat penjualan surat Indulgensia, dimana surat ini
adalah salah satu cara untuk memperoleh keselamatan. Dalam ajarannya, yang
menentukan keselamatan manusia harus ikut berperan dalam bentuk beramal dan
berbuat baik, namun hal itu tidak cukup untuk mendapatkan keselamatan. Jika
seseorang mau selamat melintasi purgatorium
(api penyucian) menuju kehidupan kekal, mereka harus membeli surat penghapusan
siksa atau indulgensia.
2.
Bidang
Sosial-Politik
Cita-cita
persatuan orang Kristen dibawah kepemimpinan Paus sudah mulai pudar. Timbul
semangat emansipasi politik diseluruh Eropa. Jadi setiap raja ingin mengatur
urusan negerinya masing-masing tanpa campur tangan dari kekuasaan Paus.
3.
Bidang
Kebudayaan
Abad
ke-15 timbul masa Renaisans, yaitu
masa dimana semangat untuk kembali ke masa kejayaan masa lalu, dan untuk itu
perlu menggali sumber-sumber dan menemukan kekayaan masa lalu sekaligus
mengembangkannya dalam bentuk-bentuk yang baru.
4.
Bidang
Ekonomi
Eropa
Barat mengalami perkembangan yang sangat pesat, dimana kebangkitan kelas
pedagang dan pengusaha di bidang perdagangan dan industry yang menjadi cikal
bakal kapitalisme. Hal ini dipandang cocok untuk kehidupan masyarakat yang ada.
2.3.3
Ajaran-ajaran
Lutheran
Gereja
Lutheran mengambil namanya dari tokoh reformasi Martin Luther sambil menegaskan
pada ajaran Luther. Pusat ajaran dari Luther:[11]
a. Sakramen
Berdasarkan
penelitiannya atas Alkitab, Luther menemukan ada dua sakramen yang punya dasar
Alkitabiah, dalam arti yang langsung ditetapkan oleh Yesus Kristus sendiri.
Sakramen yang diakui Lutheran pertama adalah Babtisan Kudus dan yang kedua
adalah Perjamuan Kudus yang disebut Konsubtansiasi.[12]
b. Jabatan
dan Tata Gereja
Dalam gereja Lutheran
setiapjabatan yang ditetapkan oleh Allah hanya sebagai fungsi pelayanan Firman
dan Sakramen. Berdasarkan penelitian asas Alktitab antara lain surat Ibrani dan
1 Petrus. Luther melihat bahwa secara hakiki tidak ada pemisah antara kaum
klerus dan kaum awam. Jabatan imam dipegang oleh Tuhan Yesus Kristus dengan
kematian dan kebangktan-Nya. Dengan demikian imam memilki pengertian baru
bukanlah lagi sebagai jabatan khusus untuk orang-orang khusus melainkan sebagai
fungsi pelayanan yang meneladani Kristus.
c. Tata
Ibadah
Suasana dan liturgi
dalam ibadah Gereja Lutheran tidak banyak berbeda dari GKR. Benda-benda
perlengkapan ruang Ibadah termasuk lilin, patung atau lukisan tetap
dipertahankan dan juga dianggap sebagai adiapora sejauh tidak merintangi
pemberitaan Firman yang murni dan Pelayanan Sakramen. Bagi Luther[an], yang
terpenting dalam Ibadah adalah bagaimana agar jemaat dapat mengalami dengan
nyata tindakan peenyelamatan Allah oleh Kristus. Di dalam tata Ibadah Lutheran
Pemberitaan Firman dan Pelayanan Perjamuan Kudus selalu ditekankan Pengakuan
Dosa dan Pengampunan yang disediakan oleh Allah, juga digunakan nyanyian dan
music sebagai hal yang penting. Misalnya lagu “Allahmu banteng yang teguh” (Kidung Jemaat 250). Tata Ibadah Gereja
Lutheran dituangkan dalamsatu buku yang disebut dengan Agenda.
2.4 Teologi Sistematika dalam aliran
Gereja Lutheran
Dalam
suatu Firman dan Sakramen adalah sebuah kata-kata kunci dalam kehidupan gereja-gereja Lutheran dan merupakan
pusat ajaran Luther. Firman itu semata-mata hanya berpacu kepada Alkitab yang disemboyankan
dengan Sola Scriptura. Bagi Luther
sakramen adalah Firman yang kelihatan dan keyakinan Luther bahwa keselamatan hanya
diperoleh berdasarkan kasih karunia melalui iman (Sola Gratia dan Sola Fide): Sola
Gratia, artinya hanya Anugerah, dimana manusia dibenarkan dan diselamatkan
dari keberdosaannya hanya oleh anugerah dan belas kasihan dari Allah. Sola Fide, artinya hanya oleh iman, Iman
untuk mendapatkan keselamatan dari anugerah Allah hanya melalui iman. Sola Scriptura, yaitu hanya oleh
Alkitab. Alkitab menjadi tolak ukur iman dan ilmu Teologi. Jika antara Alkitab
dan teologi dan tradisi Gereja bertentangan, maka orang harus lebih menuruti
Alkitab. Jadi makna penelaan Alkitab harus ditekankan.
Selain itu masih
terdapat beberapa ajaran Lutheran, yaitu:
2.4.1
Allah
Tritunggal
Ajaran
Allah Tritunggal yang dimaksudkan adalah suatu Allah yang kepadanya kita
mengharapkan segala kebutuhan dan kepadanya kita meminta perlindungan di waktu
kesukaran. Allah yang Esa dalam tiga Oknum, dan tiga oknum di dalam Allah yang
Esa; dengan tidak mencampurkan ketiga oknum dan memisahkan wujud ilahi itu.
Bapa adalah satu oknum, Anak adalah satu oknum yang lain, Roh Kudus adalah
oknum yang lain juga. Tetapi Bapa dan Anak dan Roh Kudus adalah Satu Allah,
sama di dalam kemuliaan, sama di dalam kebesaran yang kekal. Diantara oknum
yang ketiganya ini tidak ada terdahulu dan terkemudian, tidak ada yang
terbesar, dan tidak ada yang terkecil, oleh sebab itu tiga oknum dalam satu
wujud Ilahi, dan satu Allah di dalam tiga oknum.[13]
2.4.2
Roh
Kudus
Untuk
memperoleh iman, Allah mengadakan jabatan pelayanan, yaitu melayani Injil dan
Sakramen. Untuk itu, sebagai pengantara, ia memberikan Roh Kudus yang
menimbulkan iman, bilamana dan dimana ia kehendaki, kepada mereka yang
mendengarkan Injil itu. Adalah kehendak Allah agar manusia mendengar Firman-Nya
dan tidak menutup telinga. Roh Kudus hadir bersama dengan Firman itu dan
membuka hati manusia, sehingga mereka mengindahkan Firman itu dan bertobat
semata-mata hanya melalui anugerah dan kuasa Roh Kudus, karena pertobatan
manusia adalah pekerjaan Roh Kudus saja.[14]
2.4.3
Kristologi
Kristus
adalah tuan dan Raja Kitab Suci tetapi sekaligus adalah isinya. Tujuan tradisi
kristologi Lutheran adalah Kristologi yang dapat memikul beban “pembenaran
hanya oleh iman”. Keallahan dan sifat kemanusiaan berpadu secara pribadi di
dalam Kristus. Yang satu sebagai Anak Allah dan yang lain Anak Manusia, tetapi
satu oknum tunggal berupa Anak Allah dan Anak Manusia. Allah yang menjadi
manusia ini, adalah nyata bagi kita pada tempat yang sama dan dalam cara yang
sama bahwa Allah nyata bagi kita.[15]
2.4.4
Dosa
Asali
Semenjak
kejatuhan Adam, semua orang yang dilahirkan dalam keadaan berdosa, yaitu semua
manusia penuh dengan nafsu dan kecenderungan yang jahat sejak dari kandungan
ibunya dan tidak merasa takut akan Allah maupun mempunyai iman sejati kepada
Allah. Unsur dosa Asali adalah kurang kemampuan untuk yakin, takut, atau sayang
kepada Allah dan hawa nafsu yang memburu kenikmatan jasmani yang berlawanan
dengan Firman Allah. Kebenaran manusia adalah diperbudak dan dikuasai oleh
iblis yang menipu dengan pikiran-pikiran jahat dan salah, serta membawanya
kepada segala jenis dosa.[16]
2.4.5
Kedatangan
Kristus untuk Menghakimi
Yesus
Kristus akan datang kembali pada akhir zaman untuk menghakimi dan membangkitkan
semua orang mati, untuk memberikan hidup dan kebahagiaan yang kekal kepada
orang percaya dan terpilih, tetapi akan menghukum orang durhaka serta iblis
dalam neraka untuk selama-lamanya.[17]
2.4.6
Kehendak
Bebas
Manusia
memilki suatu batas kebebasan kehendak, hidup terhormat secara lahiriah dan
memilih untuk mengerjakan hal-hal berdasarkan akal budi. Tidak mengingkari
kebebasan terhadap kemauan insane. Dimana bebas memilih dari antara
perbuatan-perbuatan dan hal-hal yang dapat dipahami akal budi. Akan tetapi
tanpa anugrah, pertolongan dan kegiatan Roh Kudus, manusia tidak dapat
menjadikan dirinya berkenan di hadirat Allah.[18]
2.4.7
Hukum
Taurat dan Injil
Taurat
dan Injil saling melengkapi karena Taurat (hokum) diperlukan untuk menjamin
keteraturan Injil sebagai alat untuk mendirikan kerajaan Allah. Hokum Taurat
adalah ajaran Tuhan yang mengajarkan tentang apa yang benar dan yang berkenan
kepada Allah dan yang mengutuk sesuatu yang salah, dan yang bertentangan dengan
kemauan Allah. Sedangkan Injil adalah sejenis ajaran yang memberitakan apa yang
harus dipercayai orang yang tidak memelihara taurat dan olehnya sudah terkutuk,
yakni bahwa Kristus telah menghapuskan dan membayar semua utang (kesalahan) dan
tanpa jasa manusia yang telah memperoleh pengampunan dosa.[19]
2.4.8
Pembenaran
Pembenaran
manusia dihadapan Allah adalah hasil dari anugrah ilahi melalui iman, bukan
upah dari perbuatan. Ketika kita percaya bahwa Kristus menderita bagi kita dan
oleh karena Dia dosa kita diampuni dan kebenaran serta hidup yang kekal
diberikan untuk kita. Karena Allah akan menganggap dan menghitung iman ini
sebgai kebenaran.[20]
2.4.9
Iman
dan Perbuatan-perbuatan baik
Iman
kepada Kristus harus memberikan buah dan perbuatan yang baik, dan kita harus
melakukannya demi Allah, dan kita jangan menaruh kepercayaan atas
perbuatan-perbuatan baik, seakan-akan dapat mengambil hati Allah dengan itu.
Karena kita menerima pengampunan dosa dan pembenaran malalui hanya iman dalam
Kristus.[21]
III.
Kesimpulan
Teologi
Sistematis adalah untuk menjelaskan keseluruhan iman Kristen secara teratur.
Salah satunya adalah aliran Lutheran yang merupakan salah satu aliran yang
terdapat di dalm Gereja, dimana aliran ini menggunakan Teologi Sistematis untuk
menyusun, merumuskan, dan mempertanggungjawabkan ajaran-ajaran mereka yang
berasal dari Martin Luther yang berdasr Alkitab. Dengan hasil Teologi
Sistematisnya yaitu Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura, Allah Tritunggal,
Roh Kudus, Kristologi, Dosa Asali, Kedatangan Yesus untuk menghakimi, Kehendak
Bebas, Hukum Taurat dan Injil, Pembenaran,Iman dan Perbuatan-perbuatan baik.
IV.
Daftar
Pustaka
Aritonang, Jan S., Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar
Gereja, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2000
Dahlenbur ,G.D., Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, Jakarta:
BPK- Gunung Mulia, 1991
Drewes, B.Fdan Julianus
Majau, Apa itu Teologi: Pengantar kedalam
Ilmu Teologi, Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2010
Erickson, Milars J., Teologi Kristen, Malang: Gandum Mas,
2004
Indra, Ichwei G., Teologi Sistematis, Bandung: Lembaga
Literatur Babtis Yayasan Babtis Indonesia, 2010
Lalu, Yosep Pr, Menggumuli Makna Hidup dan Terang Iman
Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 2010
McGrath, Alister E., Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta:
BPK- Gunung Mulia, 2011
S, Jonar, Sejarah Gereja Umum, Yogyakarta: Andi,
2014
Simorangkir, Mangisi
S.E., Ajaran Dua Kerajaan Luther, Bandung:
Gilang Badudu, 2011
Wellem, F. D., Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-
Gunung Mulia, 2009
[1]
Ichwei G. Indra, Teologi Sistematis,
(Bandung: Lembaga Literatur Babtis (Yayasan Babtis Indonesia), 2010), 9
[2]
Milars J. Erickson, Teologi Kristen,
(Malang: Gandum Mas, 2004), 27
[3]
B.F. Drewes dan Julianus Majau, Apa itu
Teologi: Pengantar kedalam Ilmu Teologi, (Jakarta : BPK-Gunung Mulia,
2010), 126-127
[4]
Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di
Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2000), 310
[5]
Yosep Lalu Pr, Menggumuli Makna Hidup dan
Terang Iman Katolik, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), 62
[6]
F. D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja,
(Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2009), 269
[7]
Jonar S, Sejarah Gereja Umum,
(Yogyakarta: Andi, 2014), 329-332
[8] Jonar S, Sejarah
Gereja Umum, (Yogyakarta: Andi, 2014), 333-334
[9] Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2011), 78
[10]
Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di
Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2000), 24-26
[11] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, 44-50
[12]
Konsubstansiasi adalah paham Luther
tentang Perjamuan Kudus, dimana Konsubstansiasi (con= bersama-sama; bergandengan; Substansiasi: hakika, zat) kedua unsur Perjamuan, yaitu roti dan
anggur, mencakup dua hakikat sekaligus:hakikat
jasmani, tetap sebagai roti dan anggur, dan hakikat rohanii, sebagai tubuh dan darah Kristus.
[13]
G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja
Lutheran, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 1991), 22
[14]
G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja
Lutheran, 30-31
[15]
Mangisi S.E. Simorangkir, Ajaran Dua
Kerajaan Luther, (Bandung: Gilang Badudu, 2011), 111
[16]
G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja
Lutheran, 23
[17]
G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja
Lutheran, 62
[18]
G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja
Lutheran, 24
[19]
G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja
Lutheran, 34
[20] Mangisi S.E. Simorangkir, Ajaran Dua Kerajaan Luther, (Bandung:
Gilang Badudu, 2011), 125
[21] G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, 42