Senin, 13 Februari 2017

Teologi Sistematika dalam Gereja Lutheran

Nama              : Enhot Efraim Girsang
                          Evelin Salsalina Sitepu
                          Hardi Elcana Gurning
Ting/Jur         : II-D/Theologia
Mata Kuliah  : Pembimbing Teologi Sistematika
Dosen              : Pdt. Kaleb Manurung, M.Th
Teologi Sistematika aliran Gereja Lutheran
I.                   Pendahuluan
Teologi Sistematika mempunyai hubungan yang erat dengan bidang ilmu lainnya.  Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas dan mempelajari tentang Teologi Sistematis aliran Gereja Katolik. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang Teologi Sistematika aliran Gereja Lutheran, yang juga masih mempunyai hubungan dengan sajian sebelumnya. Dalam sajian ini akan dibahas tentang tokoh dari Gereja Lutheran yaitu Martin Luther, latar belakang Gereja Lutheran dan paham-paham Luther yang dianut oleh Gereja Lutheran. Semoga sajian kali ini dapat berguna dan menambah wawasan kita bersama. 
II.                Pembahasan
2.1  Pengertian Teologi Sistematika
Istilah Teologi atau theologia berasal dari bahsa Yunani yang arti katanya ialah ilmu (logos) tentang Allah (Theos). Menurut makna etimologis, arti teologi bisa sempit dan bisa luas. Secara sempit, teologi berarti “ajaran tentang Allah”; sedangkan arti secara luas, teologi berarti “keseluruhan ajaran Kristen”.[1] Umat Kristen adalah oknum yang aktif, sehingga defenisi yang mula-mula itu tadi harus diperluas untuk meliputi karya-karya Allah serta hubungan-Nya dengan karya-karya itu yang harus berusaha memahami ciptaan Allah, khususnya manusia serta keadaannya, dan juga karya penebusan Allah dalam hubungan dengan umat manusia.[2] Istilah sitematika berhubungan dengan kata “system” sebagai perangkat, sebagai unsure-unsur secara teratur salng berkait sehingga membentuka totalitas”. Jadi Teologi Sistematika adalah usaha untuk menjelaskan keseluruhan iman Kristen secara teratur. Teologi Sistematika juga merupakan hasil dari sebuah gerkan spiral yang terus menerus yaitu suatu gerakan timbal balik antara Alkitab sebagai Firman Allah (Wahyu Allah) dan konteks dimana kita hidup. Dengan demikian, Teologi Sistematika merupakan usaha mengumpulkan, membahas, merumuskan semua pengajaran Alkitab dalam upaya memberikan pengetahuan tentang pokok-pokok ajaran iman Kristen dan pedoman-pedoman perilaku orang percaya.[3]  


2.2  Pengertian Gereja dan aliran Lutheranisme
Kata Gereja bukanlah semacam batasan atau defenisi. Gereja berasal dari bahasa Portugis: igreja, yang berasal dari bahasa Yunani: ekklêsia yang berarti dipanggil keluar (ek=keluar; klêsia dari kata kaleo=memanggil); kumpulan orang yang dipanggil keluar dari dunia.gereja adalah persekutuan orang percaya yang mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dalam kesinambungan dengan umat Allah dalam pada Perjanjian Lama, kita dipanggil keluar dari dunia, dan kita berhimpun bersamauntuk Ibadah, untuk persekutuan, untuk pengajaran dalam Firman Allah, untuk Perjamuan Tuhan, dan untuk pewartaan injil keseluruh dunia.[4] Ada tiga nama yang dipakai untuk Gereja dalam Perjanjian Baru:Gereja sebagai umat Allah; Gereja sebagai tubuh Kristus; Gereja sebagai Bait Roh Kudus.[5] Aliran Lutheranisme adalah aliran yang berpegang pada ajaran-ajaran Luther. Lutheranisme menyususun ajaran-ajaran Luther secara sistematis dari berbagai tulisan yang dibuat oleh Luther sendiri, seperti Katekismus Luther, Pengakuan Iman Augsburg, Pengakuan Iman Schmalkeden, dan Formula Konkord, yang semuanya disatukan dalam buku Konkord pada tahun 1580. Rumusan utama dalam Lutheranisme adalah keselamatan oleh anugrah melalui iman. Pada abad ke-16 dan 17, Lutheranisme disistematiskan sehingga menjadi sangat intelektualistik dan dapat dipertanggungjawabkan.[6]
2.3  Gereja Lutheran
2.3.1        Tokoh Utama Gereja Luheran
Martin Luther adalah seorang Reformator Gereja dan menjadi tokoh dalam Gereja Lutheran. Luther lahir pada 10 November 1483 di Eisleben, Jerman. Ayahnya bernama Hans Luther, seorang yang bekerja sebagai penambang tembaga. Pada tanggal 30 Juli 1505 ia hampir pernah tersambar oleh kilatan petir dan kemudian ia berjanji kepada St. Ana bahwa ia akan menjadi Rahib. Pada akhirnya ia berhasil menjadi guru besar di Universitas Wittenberg. Luther adalah seorang yang sering bergumul oleh karena Keberdosaannya sendiri. Pada awalnya, ia tidak bermaksud untuk memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma, namun setelah ia bergumul, ia mendapatkan sebuah pemahaman yang berbeda dengan ajaran-ajaran Gereja Katolik Roma. Pada tanggal 31 Oktober 1517 ( tanggal ini diperingati dikemudian sebagai hari reformasi oleh gereja-gereja Protestan) ia menempelkan 95 dalil didepan gerbang Wittenberg yang ditulis oleh Luther sendiri sebagai protesnya terhadap Gereja Katolik Roma pada saat itu.[7] Kesimpulan dari dalil Luther itu menekankan beberapa hal, yaitu : hanya oleh iman (sola fide) kita dibenarkan, hanya Alkitab (sola scriptura) yang merupakan standar kebenaran dan hidup, hanya oleh anugerah (sola gratia) kita memperoleh keselamatan, dan hal ini yang menjadi inti dari ajaran Luther kemudian hanya bagi Tuhanlah segala pujian dan hormat (soli deo gloria) karena Dia lah yang layak menerimanya.[8] Luther dalam pandangannya banyak dipengaruhi oleh tulisan bapa-bapa Gereja, terutama Agustinus. Luther menggunakan Alkitab terjemahan dari Desiderius Erasmus dalam mendukung program pembaruannya.[9]       
2.3.2        Latar Belakang Gereja Lutheran[10]
1.      Bidang Kerohanian dan Kegerejaan
Pada abad ke-15 dan abad 16 terdapat penjualan surat Indulgensia, dimana surat ini adalah salah satu cara untuk memperoleh keselamatan. Dalam ajarannya, yang menentukan keselamatan manusia harus ikut berperan dalam bentuk beramal dan berbuat baik, namun hal itu tidak cukup untuk mendapatkan keselamatan. Jika seseorang mau selamat melintasi purgatorium (api penyucian) menuju kehidupan kekal, mereka harus membeli surat penghapusan siksa atau indulgensia.
2.      Bidang Sosial-Politik
Cita-cita persatuan orang Kristen dibawah kepemimpinan Paus sudah mulai pudar. Timbul semangat emansipasi politik diseluruh Eropa. Jadi setiap raja ingin mengatur urusan negerinya masing-masing tanpa campur tangan dari kekuasaan Paus.   
3.      Bidang Kebudayaan
Abad ke-15 timbul masa Renaisans, yaitu masa dimana semangat untuk kembali ke masa kejayaan masa lalu, dan untuk itu perlu menggali sumber-sumber dan menemukan kekayaan masa lalu sekaligus mengembangkannya dalam bentuk-bentuk yang baru.
4.      Bidang Ekonomi
Eropa Barat mengalami perkembangan yang sangat pesat, dimana kebangkitan kelas pedagang dan pengusaha di bidang perdagangan dan industry yang menjadi cikal bakal kapitalisme. Hal ini dipandang cocok untuk kehidupan masyarakat yang ada.
2.3.3        Ajaran-ajaran Lutheran
Gereja Lutheran mengambil namanya dari tokoh reformasi Martin Luther sambil menegaskan pada ajaran Luther. Pusat ajaran dari Luther:[11]
a.       Sakramen
Berdasarkan penelitiannya atas Alkitab, Luther menemukan ada dua sakramen yang punya dasar Alkitabiah, dalam arti yang langsung ditetapkan oleh Yesus Kristus sendiri. Sakramen yang diakui Lutheran pertama adalah Babtisan Kudus dan yang kedua adalah Perjamuan Kudus yang disebut Konsubtansiasi.[12]
b.      Jabatan dan Tata Gereja
Dalam gereja Lutheran setiapjabatan yang ditetapkan oleh Allah hanya sebagai fungsi pelayanan Firman dan Sakramen. Berdasarkan penelitian asas Alktitab antara lain surat Ibrani dan 1 Petrus. Luther melihat bahwa secara hakiki tidak ada pemisah antara kaum klerus dan kaum awam. Jabatan imam dipegang oleh Tuhan Yesus Kristus dengan kematian dan kebangktan-Nya. Dengan demikian imam memilki pengertian baru bukanlah lagi sebagai jabatan khusus untuk orang-orang khusus melainkan sebagai fungsi pelayanan yang meneladani Kristus. 
c.       Tata Ibadah
Suasana dan liturgi dalam ibadah Gereja Lutheran tidak banyak berbeda dari GKR. Benda-benda perlengkapan ruang Ibadah termasuk lilin, patung atau lukisan tetap dipertahankan dan juga dianggap sebagai adiapora sejauh tidak merintangi pemberitaan Firman yang murni dan Pelayanan Sakramen. Bagi Luther[an], yang terpenting dalam Ibadah adalah bagaimana agar jemaat dapat mengalami dengan nyata tindakan peenyelamatan Allah oleh Kristus. Di dalam tata Ibadah Lutheran Pemberitaan Firman dan Pelayanan Perjamuan Kudus selalu ditekankan Pengakuan Dosa dan Pengampunan yang disediakan oleh Allah, juga digunakan nyanyian dan music sebagai hal yang penting. Misalnya lagu “Allahmu banteng yang teguh” (Kidung Jemaat 250). Tata Ibadah Gereja Lutheran dituangkan dalamsatu buku yang disebut dengan Agenda.
2.4  Teologi Sistematika dalam aliran Gereja Lutheran
Dalam suatu Firman dan Sakramen adalah sebuah kata-kata kunci dalam  kehidupan gereja-gereja Lutheran dan merupakan pusat ajaran Luther. Firman itu semata-mata hanya berpacu kepada Alkitab yang disemboyankan dengan Sola Scriptura. Bagi Luther sakramen adalah Firman yang kelihatan dan keyakinan Luther bahwa keselamatan hanya diperoleh berdasarkan kasih karunia melalui iman (Sola Gratia dan Sola Fide): Sola Gratia, artinya hanya Anugerah, dimana manusia dibenarkan dan diselamatkan dari keberdosaannya hanya oleh anugerah dan belas kasihan dari Allah. Sola Fide, artinya hanya oleh iman, Iman untuk mendapatkan keselamatan dari anugerah Allah hanya melalui iman. Sola Scriptura, yaitu hanya oleh Alkitab. Alkitab menjadi tolak ukur iman dan ilmu Teologi. Jika antara Alkitab dan teologi dan tradisi Gereja bertentangan, maka orang harus lebih menuruti Alkitab. Jadi makna penelaan Alkitab harus ditekankan.
Selain itu masih terdapat beberapa ajaran Lutheran, yaitu:  
2.4.1        Allah Tritunggal
Ajaran Allah Tritunggal yang dimaksudkan adalah suatu Allah yang kepadanya kita mengharapkan segala kebutuhan dan kepadanya kita meminta perlindungan di waktu kesukaran. Allah yang Esa dalam tiga Oknum, dan tiga oknum di dalam Allah yang Esa; dengan tidak mencampurkan ketiga oknum dan memisahkan wujud ilahi itu. Bapa adalah satu oknum, Anak adalah satu oknum yang lain, Roh Kudus adalah oknum yang lain juga. Tetapi Bapa dan Anak dan Roh Kudus adalah Satu Allah, sama di dalam kemuliaan, sama di dalam kebesaran yang kekal. Diantara oknum yang ketiganya ini tidak ada terdahulu dan terkemudian, tidak ada yang terbesar, dan tidak ada yang terkecil, oleh sebab itu tiga oknum dalam satu wujud Ilahi, dan satu Allah di dalam tiga oknum.[13]
2.4.2        Roh Kudus
Untuk memperoleh iman, Allah mengadakan jabatan pelayanan, yaitu melayani Injil dan Sakramen. Untuk itu, sebagai pengantara, ia memberikan Roh Kudus yang menimbulkan iman, bilamana dan dimana ia kehendaki, kepada mereka yang mendengarkan Injil itu. Adalah kehendak Allah agar manusia mendengar Firman-Nya dan tidak menutup telinga. Roh Kudus hadir bersama dengan Firman itu dan membuka hati manusia, sehingga mereka mengindahkan Firman itu dan bertobat semata-mata hanya melalui anugerah dan kuasa Roh Kudus, karena pertobatan manusia adalah pekerjaan Roh Kudus saja.[14]
2.4.3        Kristologi
Kristus adalah tuan dan Raja Kitab Suci tetapi sekaligus adalah isinya. Tujuan tradisi kristologi Lutheran adalah Kristologi yang dapat memikul beban “pembenaran hanya oleh iman”. Keallahan dan sifat kemanusiaan berpadu secara pribadi di dalam Kristus. Yang satu sebagai Anak Allah dan yang lain Anak Manusia, tetapi satu oknum tunggal berupa Anak Allah dan Anak Manusia. Allah yang menjadi manusia ini, adalah nyata bagi kita pada tempat yang sama dan dalam cara yang sama bahwa Allah nyata bagi kita.[15]
2.4.4        Dosa Asali
Semenjak kejatuhan Adam, semua orang yang dilahirkan dalam keadaan berdosa, yaitu semua manusia penuh dengan nafsu dan kecenderungan yang jahat sejak dari kandungan ibunya dan tidak merasa takut akan Allah maupun mempunyai iman sejati kepada Allah. Unsur dosa Asali adalah kurang kemampuan untuk yakin, takut, atau sayang kepada Allah dan hawa nafsu yang memburu kenikmatan jasmani yang berlawanan dengan Firman Allah. Kebenaran manusia adalah diperbudak dan dikuasai oleh iblis yang menipu dengan pikiran-pikiran jahat dan salah, serta membawanya kepada segala jenis dosa.[16]
2.4.5        Kedatangan Kristus untuk Menghakimi
Yesus Kristus akan datang kembali pada akhir zaman untuk menghakimi dan membangkitkan semua orang mati, untuk memberikan hidup dan kebahagiaan yang kekal kepada orang percaya dan terpilih, tetapi akan menghukum orang durhaka serta iblis dalam neraka untuk selama-lamanya.[17]
2.4.6        Kehendak Bebas
Manusia memilki suatu batas kebebasan kehendak, hidup terhormat secara lahiriah dan memilih untuk mengerjakan hal-hal berdasarkan akal budi. Tidak mengingkari kebebasan terhadap kemauan insane. Dimana bebas memilih dari antara perbuatan-perbuatan dan hal-hal yang dapat dipahami akal budi. Akan tetapi tanpa anugrah, pertolongan dan kegiatan Roh Kudus, manusia tidak dapat menjadikan dirinya berkenan di hadirat Allah.[18]
2.4.7        Hukum Taurat dan Injil
Taurat dan Injil saling melengkapi karena Taurat (hokum) diperlukan untuk menjamin keteraturan Injil sebagai alat untuk mendirikan kerajaan Allah. Hokum Taurat adalah ajaran Tuhan yang mengajarkan tentang apa yang benar dan yang berkenan kepada Allah dan yang mengutuk sesuatu yang salah, dan yang bertentangan dengan kemauan Allah. Sedangkan Injil adalah sejenis ajaran yang memberitakan apa yang harus dipercayai orang yang tidak memelihara taurat dan olehnya sudah terkutuk, yakni bahwa Kristus telah menghapuskan dan membayar semua utang (kesalahan) dan tanpa jasa manusia yang telah memperoleh pengampunan dosa.[19] 
2.4.8        Pembenaran
Pembenaran manusia dihadapan Allah adalah hasil dari anugrah ilahi melalui iman, bukan upah dari perbuatan. Ketika kita percaya bahwa Kristus menderita bagi kita dan oleh karena Dia dosa kita diampuni dan kebenaran serta hidup yang kekal diberikan untuk kita. Karena Allah akan menganggap dan menghitung iman ini sebgai kebenaran.[20]
2.4.9        Iman dan Perbuatan-perbuatan baik
Iman kepada Kristus harus memberikan buah dan perbuatan yang baik, dan kita harus melakukannya demi Allah, dan kita jangan menaruh kepercayaan atas perbuatan-perbuatan baik, seakan-akan dapat mengambil hati Allah dengan itu. Karena kita menerima pengampunan dosa dan pembenaran malalui hanya iman dalam Kristus.[21]
III.             Kesimpulan
Teologi Sistematis adalah untuk menjelaskan keseluruhan iman Kristen secara teratur. Salah satunya adalah aliran Lutheran yang merupakan salah satu aliran yang terdapat di dalm Gereja, dimana aliran ini menggunakan Teologi Sistematis untuk menyusun, merumuskan, dan mempertanggungjawabkan ajaran-ajaran mereka yang berasal dari Martin Luther yang berdasr Alkitab. Dengan hasil Teologi Sistematisnya yaitu Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura, Allah Tritunggal, Roh Kudus, Kristologi, Dosa Asali, Kedatangan Yesus untuk menghakimi, Kehendak Bebas, Hukum Taurat dan Injil, Pembenaran,Iman dan Perbuatan-perbuatan baik.
IV.             Daftar Pustaka
Aritonang, Jan S., Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2000
Dahlenbur ,G.D., Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 1991
Drewes, B.Fdan Julianus Majau, Apa itu Teologi: Pengantar kedalam Ilmu Teologi, Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2010
Erickson, Milars J., Teologi Kristen, Malang: Gandum Mas, 2004
Indra, Ichwei G., Teologi Sistematis, Bandung: Lembaga Literatur Babtis Yayasan Babtis Indonesia, 2010
Lalu, Yosep Pr, Menggumuli Makna Hidup dan Terang Iman Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 2010
McGrath, Alister E., Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2011
S, Jonar, Sejarah Gereja Umum, Yogyakarta: Andi, 2014
Simorangkir, Mangisi S.E., Ajaran Dua Kerajaan Luther, Bandung: Gilang Badudu, 2011
Wellem, F. D., Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2009




[1] Ichwei G. Indra, Teologi Sistematis, (Bandung: Lembaga Literatur Babtis (Yayasan Babtis Indonesia), 2010), 9 
[2] Milars J. Erickson, Teologi Kristen, (Malang: Gandum Mas, 2004), 27
[3] B.F. Drewes dan Julianus Majau, Apa itu Teologi: Pengantar kedalam Ilmu Teologi, (Jakarta : BPK-Gunung Mulia, 2010), 126-127
[4] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2000), 310
[5] Yosep Lalu Pr, Menggumuli Makna Hidup dan Terang Iman Katolik, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), 62
[6] F. D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2009), 269
[7] Jonar S, Sejarah Gereja Umum, (Yogyakarta: Andi, 2014), 329-332
[8]  Jonar S, Sejarah Gereja Umum, (Yogyakarta: Andi, 2014), 333-334
[9]  Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2011), 78
[10] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2000), 24-26
[11]  Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, 44-50
[12] Konsubstansiasi adalah paham Luther tentang Perjamuan Kudus, dimana Konsubstansiasi (con= bersama-sama; bergandengan; Substansiasi: hakika, zat) kedua unsur Perjamuan, yaitu roti dan anggur, mencakup dua hakikat sekaligus:hakikat jasmani, tetap sebagai roti dan anggur, dan hakikat rohanii, sebagai tubuh dan darah Kristus.  
[13] G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 1991), 22
[14] G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, 30-31
[15] Mangisi S.E. Simorangkir, Ajaran Dua Kerajaan Luther, (Bandung: Gilang Badudu, 2011), 111
[16] G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, 23
[17] G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, 62
[18] G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, 24
[19] G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, 34
[20]  Mangisi S.E. Simorangkir, Ajaran Dua Kerajaan Luther, (Bandung: Gilang Badudu, 2011), 125
[21]  G.D. Dahlenbur, Konfesi-konfesi Gereja Lutheran, 42